Senin, 28 Mei 2012

Beri Dulu Baru Terima

Manusia membutuhkan manusia lainnya. Itu pasti, bahkan bayi yang baru lahir pun paham itu. Ia menangis tatkala ia kehausan atau kelaparan, juga tatkala deapersnya sudah over load. Sejak masih kecil manusia sudah diberi pemahaman kebutuhan akan kehadiran orang lain untuk memenuhi hajatnya.

Hingga sekarang pun, setelah seusia saya sekarang ini, saya sering kali tidak dapat menyelesaikan segalanya dengan tangan saya sendiri. Butuh tangan-tangan lain untuk membantu. Untuk memperbaiki motor saya maka saya membutuhkan keahlian seorang mekanik di bengkel motor. Memperbaiki genting yang bergeser di atap rumah sendiri, dibutuhkan kecakapan seorang tukang bangunan. Sebab jika motor dan genting itu saya perbaiki, bisa saja selesai, namun tak terbayangkan kerugiannya bila saya kerjakan sendiri; berapa banyak baut dan skrup yang hilang, atau berapa banyak genting yang pecah karena terinjak kaki sendiri? 

Namun mereka -- orang-orang yang membantu kita itu -- semua baru akan bergerak setelah menerima "instruksi". Sebagai pemberi instruksi usahakan untuk memberikan sebanyak mungkin informasi kepada orang yang kita beri mandat, agar pekerjaannya langsung pada permasalahan. Tidak berputar - putar lama karena mencari sumber masalah. Saya jadi teringat seorang paman yang marah setelah turun dari taksi yang disewanya. Marahnya karena sang driver mengajak "jalan-jalan" lebih dari 1 jam untuk jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam 15 menit. Seharusnya sang paman bisa memberi instruksi lebih spesifik kepada sang driver untuk mengambil route terdekat. Bahkan kalo perlu dituntun belok kiri dan kanannya. Pasti deh si driver gak bakal nakal lagi?! Hehehe...

Persoalannya, bukankah paman saya berada di atas taksi tersebut bukan? Pada saat sang driver yang nakal ini mulai coba-coba cari jalan, seharusnya bisa diingatkan dan diberi rambu peringatan. Kalo perlu getok kepalanya, paling misuh-misuh dia. Wkwkwkwkwk..... Inilah kebanyakan tipikal kita, orang Indonesia, terlalu besar sungkannya. Padahal sebagai pemberi order pastinya kita tetap tahu lebih banyak dari penerima mandat. Setuju ga? Pastilah seperti saat saya membawa motor saya untuk di servis tentu saja yang tau keluhan atas motor itu adalah saya sendiri. Bukan orang bengkel. Jadi sebagai pemberi mandat harus cerewet-wet-wet. Cek ini, lihat itu, buka ini, bersihkan itu. Gitulah pokoknya.

Selanjutnya tinggal di pantau. Saat penerima mandat mulai bekerja, kita harus mengawasi proses kerjanya. Ingat proses. Bukan hasil. Kecuali jika kita sudah kenal, percaya dan sepaham dengan orang yang kita beri mandat. Boleh ditinggal ngopi!  Kalo belum kenal sebaiknya kenalan. Jika belum percaya, awasi prosesnya di awal, jika terlihat sudah trampil dan mantap bisa ditinggal, apalagi jika sudah sepaham. Ditinggal tidur aza bro!

Akhirul kalam tulisan pendek ini semata-mata untuk mengingatkan pribadi tentang pentingnya memberi dan menerima. Gak cuma dalam beramal dan bersedekah aza perbanyak memberi, tapi juga dalam bekerja. Right?

Makanya Rasul selalu mengingatkan, banyak memberi banyak rezeki. Kalo ga percaya yanya Pak Ustadz di mesjid atau mushola terdekat. Silahkan komentari tulisan sederhana ini. Wassalam . . . 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar