Jumat, 06 April 2012

6th Agrinex Expo

Selamat Pagi.

Ahad, 1 April 2012 kemarin saya berkesempatan mengunjungi 6th Agrinex Expo di Jakarta Convention Center. Dengan tema Agribusiness for All. Hari itu adalah hari terakhir pameran yang diselenggarakan 
sejak 30 Maret. 

Melihat hasil bumi Indonesia sungguh sangat mengagumkan, photo hewan ternak besar dan subur, dan display hasil pertanian dengan ukuran dan jumlah yang fantastis, membuat siapa pun akan berpikir Indonesia aman pangan. Tapi mengapa kita masih harus membeli beras dari luar negeri? Gandum pun 100% masih impor? Dan kita belum mampu memenuhi kebutuhan garam dalam negeri? Seberapa susah sih bikin garam dari lautan Indonesia yang luas ini? Bukankah cukup menjemur air laut maka kita akan mendapatkan garam murni? God, what is going on?
Menurut data statistik kemampuan produksi nasional tahun 2008 sekitar 59,88 ton gabah kering giling. Sementara kebutuhan saat itu dikisaran 75,62 ton GKG. Selisihnya? Itung sendiri, yang jelas jumlahnya amat sangat signifikan. Pertanyaannya adalah, mampukah kita memenuhi sendiri kebutuhan pangan nasional di masa mendatang? 

Berbagai hambatan yang saya ingat dalam salah satu display adalah:
[1] Berkurangnya lahan subur sebagai media tanam, banyak tanah pertanian dikonversi demi kepentingan perumahan, industri, perkantoran dan infrastruktur. Laju konversi terbesar adalah di Pulau Jawa. Hampir habis lahan pertanian di pulau ini. Jawabannya mungkin karena tidak meratanya pengembangan daerah terutama di luar Jawa.

[2] Tenaga kerja enggan terjun ke dunia pertanian. Lebih disebabkan pendapatan petani Indonesia yang sangat tidak menarik. Angkatan kerja Indonesia lebih banyak terserap ke sektor Industri. Generasi sekarang lebih memilih bekerja di ruang ber-AC, kulit mulus tidak terkena sinar matahari, walau hanya jadi operator di pabrik. Gajinya lebih pasti. Pasti dapat. Tidak lebih tidak kurang.

[3] Iklim global yang tidak menentu, memperbesar resiko gagal panen. Untuk yang satu ini, kita belum sanggup merekayasanya. Kehendak alam untuk diikuti bukan dilawan, demikian komentar sahabat saya, Elang Pinondang, praktisi pertanian di Ciseeng, Jawa Barat.

Dalam pameran ini ditampilkan berbagai penelitian dan upaya lembaga pemerintah dan swadaya masyarakat yang bekerja keras guna meningkatkan produksi pangan nasional. Para petani sawah dan kebun juga mulai cerdik dalam memilih pupuk organik dan non organik. 

Dan dalam catatan saya, Indonesia sebagai negara maritim -- dengan luas lautan lebih besar dari pada daratannya -- dengan bangga juga masih harus mengimpor garam. Sungguh ter-la-lu, mengutip ungkapan 
bang Haji.

Syukurlah dalam pameran kemarin banyak ditampilkan penerapan teknologi dalam budi daya pangan. Walau sebagian masih berupa riset akademis -- salah satunya di box host : Institut Pertanian Bogor, namun ini merupakan langkah awal dalam upaya meningkatkan produksi pangan Indonesia. Semoga segera ditemukan teknologi tepat guna yang dapat diadopsi secara mudah oleh pengguna.

Jangan sampai generasi bangsa Indonesia berikutnya bagaikan anak ayam kelaparan di lumbung padi. Karena sesungguhnya laut kita masih sangat luas untuk di eksplor, lahan di luar Jawa masih sungguh luas 
untuk di garap. Semoag Indonesia bisa menjadi negara eksportir dunia dalam hal pangan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar