Semua media massa sedang gencar-gencarnya memberitakan salah satu partai politik Indonesai yang gonjang-ganjing akibat anggotanya terlibat kasus Korupsi. Terus sebagai rakyat jelata apa yang bisa kita perbuat? Selain hanya menonton dan menghujat tentunya. :-P
Saya pribadi tidak ada hubungan dengan salah satu lembaga, instansi atau partai tertentu baik milik pemerintah maupun swasta, jadi saya pikir saya tidak akan pernah berbuat korupsi. Betulkah?
Korupsi yang sedang ramai dibahas, adalah korupsi uang negara. Padahal ada yang lebih besar dari itu, yaitu korupsi waktu. Karena waktu itu gratis, waktu itu tidak ditaguih sekarang, dan waktu itu tidak dikontrol orang lain. Korupsi terbesar sesungguhnya adalah Korupsi waktu.
Nyatanya terkadang kita berkorupsi waktu terhadap diri sendiri. Masa sih? Iya, misalnya pagi tadi seharusnya saya bisa langsung jamaah sholat shubuh, nyatanya karena rasa malas maka saya memilih sholat sendirian di rumah. Padahal reward yang ditawarkan berlipat-lipat jika sholat berjamaah di Masjid. Rugi besar neh...
Saya pernah berjanji dalam satu minggu minimal ada satu tulisan yang saya terbitkan via blog ini. Nyatanya? Setahun ini tidak ada karya yang layak tayang. Semuanya masih berupa draft di notepad PC kesayangan. Itu masih bagus, beberapa atau tepatnya banyak idea, malah masih tersimpan rapi di tumpukan terbawah dalam otak bawha sadar. Itu pun kalo masih inget !!! Hehehe...
Kalo soal janji dengan orang lain, Insya Alloh saya berusaha tidak menambah dosa dengan mengingkarinya. Dosa? Gak juga seh, lebih karena menjaga nama baik di mata relasi dan koneksi. Tapi ... dalam beberapa kasus janjian saya terpaksa datang terlambat. Alasannya? Gampanglah, bisa dibuat dalam tempo kurang dari satu detik. Kita ini mahluk yang diberikan akal, jadi paling mudah meng-excuse diri sendiri. Jujur deh...
Dengan sahabat saya seorang penulis tenar asal Yogya, Bung Andi Yujayanto, saya pernah berjanji akan membuat tulisan karya saya sendiri, nyatanya sampai hari ini semua masih corat-coret di atas kertas buram. Survey yang nggak finish, atau Bahan referensi yang belum tuntas, atau kalimat yang mandek tanpa tau kata selanjutnya, de el el. Masih sangat teramat banyak alasannya.
Dan masih banyak lagi yang lain bentuk koleksi korupsi pribadi, yang jika disebutkan satu persatu di sini, gak akan ada habisnya... Juga mungkin menyinggung perasaan teman-teman saya. Sebaiknya dihentikan saja. Korupsinya? Iya. Caranya? Memang HARUS mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang!!! (JAdi ingat tausiah Aa' Gym a.k.a Ustadz Abdullah Gimnastiar)
Jika ini dilakukan secara konsisten dan persisten, maka korupsi tidak lagi dibutuhkan. Jadikan nurani sebagai polisi pengawas pribadi, jika hukuman Alloh belum menjadi inspirasi!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar